Surabaya, Metropolitannews.Id – PGRI Jawa Timur meminta pelaksanaan program Makan Bergizi Gratis (MBG) di lingkungan sekolah tidak membebani guru dengan tugas teknis yang berpotensi mengurangi waktu pembelajaran.
Ketua PGRI Jawa Timur Djoko Adi Walujo mengatakan guru perlu tetap mengutamakan tugas pokoknya sebagai pendidik, yakni melaksanakan pembelajaran sekaligus membentuk karakter siswa.
Menurut dia, dukungan guru terhadap program MBG merupakan bentuk kepedulian terhadap program nasional. Namun, keterlibatan tersebut semestinya bersifat membantu dan tidak menjadikan guru sebagai bagian dari pelaksana teknis program.
“Ya, kita harus profesional. Guru yang profesional itu harus profesional di bidang pembelajaran, jangan mendapatkan beban yang lain. Kalau beban yang lain itu sifatnya fakultatif, Mas, tidak harus itu yang utama,” ujar Djoko, Jumat (2/10).

Ia mencontohkan, sejumlah guru masih terlibat dalam kegiatan teknis MBG, seperti mencicipi makanan sebelum dibagikan kepada siswa hingga membantu membereskan perlengkapan setelah makan.
Djoko menilai berbagai kegiatan tersebut dapat menyita waktu guru yang seharusnya digunakan untuk menjalankan proses pembelajaran maupun mempersiapkan materi.
“Dan mengapa itu dilakukan oleh guru, ya karena kesetiaan guru lah terhadap program nasional. Tetapi jangan sampai akhirnya guru menjadi beban itu. Itu akan jadi rugi nanti, pendidikan akan rugi semacam itu,” katanya.
Ia menyebut pelaksanaan MBG di sekolah dapat mengurangi waktu belajar mengajar sekitar 40 hingga 60 menit karena guru ikut menangani sejumlah kebutuhan dalam pelaksanaan program tersebut.
Menurut Djoko, kondisi tersebut perlu menjadi perhatian agar program MBG yang bertujuan mendukung pemenuhan gizi siswa tidak berdampak terhadap kualitas proses pendidikan.
“Harapannya guru dikembalikan pada fungsi-fungsi profesinya. Guru harus profesinya. Kalau dia itu ngurusi MBG itu hanyalah fakultatif, hanya membantulah. Tapi itu bukan tugas pokoknya, itu yang perlu diketahui,” tegasnya.
PGRI Jatim, lanjut dia, tetap mendukung program MBG sebagai bagian dari program nasional. Hanya saja, pembagian tugas dalam pelaksanaannya perlu diperjelas agar tanggung jawab teknis tidak mengurangi tugas utama guru.
Djoko menegaskan guru memiliki tanggung jawab utama dalam proses pembelajaran dan pembentukan karakter peserta didik. Karena itu, waktu guru perlu dijaga agar tetap tersedia untuk mempersiapkan materi, memperbarui metode pembelajaran, serta mendampingi perkembangan siswa.
“Bahwa guru itu punya tugas pokok di dalam proses pembelajaran dan pembentukan karakter siswa. Kalau itu ada program nasional yang semacam itu, itu bukan tugas pokok guru. Kalau tugas pokok guru terkurangi waktunya dan sebagainya, ini ya sebetulnya kurang baiklah,” ujarnya.
Ia berharap pelaksanaan MBG di sekolah dapat berjalan beriringan dengan upaya peningkatan mutu pendidikan, tanpa menggeser peran utama guru sebagai pengajar dan pendidik. mtp/zal

